Rabu, 10 Mei 2017

Jadi Sarjana Minim Biaya (sebuah catatan perjuangan mahasiswa jaman dulu)



Saat ini anak-anak kelas XII yang sudah menerima tanda kelulusan disibukkan dengan urusan masa depan mereka selanjutnya. Ada yang mencoba peruntungan dengan memasukkan lamaran pekerjaan. Banyak  yang siap-siap masuk kuliah di perguruan tinggi. Ada juga yang mencoba seleksi pada berbagai sekolah kedinasan. Berbagai macam jalur disediakan untuk masuk PT impian. Selain jalur SNMPTN, SBMPTN, PMDKPN, SPAN PTKIN, PSB UIN, masih banyak lagi yang  digunakan perguruan tinggi untuk menjaring mahasiswa baru.
Pada  tulisanku kali ini, aku akan bercerita pengalaman saat dulu selepas SMA dan mulai menapaki jalan baru sebagai mahasiswa. Mungkin karena ini cerita yang  sudah lama sehingga pastinya sudah sangat berbeda. Namun setidaknya setiap pengalaman yang bisa diceritakan kembali akan bisa ditarik benang merah berupa ibrah bagi para pencari hikmah.
Seperti yang pernah kuungkapkan sebelumnya, bahwa pergulatan antara harapan dan kenyataan membuatku serasa bermimpi bisa melanjutkan studi. Namun hanya dengan berbekal niat yang bulat, tekad yang kuat, semangat yang hebat, serta dukungan dari orang-orang terdekat akhirnya aku bisa melanjutkan bagian dari episode hidupku dan berbagi cerita ini di sini.
Pagi itu, aku naik taksi colt L300 diantar kaka laki-lakiku. Hanya satu kardus besar dan satu tas ransel yang aku bawa. Isinya juga hanya beberapa potong baju harian, baju seragam SMA buat bekal acara orientasi mahasiswa baru, satu buah bantal dengan sarungnya, beberapa buah piring dan cangkir, serta segala tetek bengek keperluan mandi. Kakakku pulang setelah mengantarku bertemu tiga temanku, dua dari asal sekolah yang sama dan satu beda sekolah. Kebetulan salah satu temanku itu punya kakak laki-laki yang sedang kuliah di sini. Sambil mencari rumah kost, kami berempat sementara menumpang di kost-an beliau. Empat anak kampung dari jarak 200 km, memulai menjalani hidup sebagai mahasiswa baru di ibukota provinsi.  Karena lulus melalui jalur PMDK (sekarang menjadi SNMPTN) kami datang dan daftar ulang lebih dulu dibanding mahasiswa baru yang melalui jalur tes. Seputaran Kampus yang dikenal dengan kawasan Kayu Tangi masih agak sepi, karena masa ini adalah masih masa liburan semester bagi mahasiswa lama.
Setelah jalan dan tanya kesana kemari, akhirnya kami mendapati sebuah rumah disewakan beralamat di Jalan Pangeran gang Rahman. Namun rumah ini kami rasakan lumayan horor karena sudah beberapa bulan tidak ditempati. Apalagi menurut cerita tetangga di sana, kosongnya rumah karena pemiliknya baru saja meninggal dunia. Sang istri yang tidak dikaruniai anak diajak pergi dan tinggal bersama saudaranya. Mengingat sebagai mahasiswa baru yang baru saja memulai perjalanan panjang di banua orang, maka kami harus pandai-pandai menghemat uang. Daripada kami menyewa kamar kost yang harganya lebih mahal, lebih baik kami sewa satu buah rumah yang bisa kami tempati berlima. Oya, ada lagi satu teman dari kota yang sama ingin bergabung. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan penghematan dan kenyamanan, kami sepakati menyewa rumah tersebut. Lama tidak ditempati, membuat hari pertama kami kerja bakti membersihkan rumah itu. Awal-awal tinggal di rumah tersebut, memang ada beberapa kejadian mistis kami dapati, tapi demi studi dan masa depan kami, hal tersebut lama-lama bisa kami atasi.
Rumah yang cukup besar dan lumayan murah untuk ukuran mahasiswa seperti kami. Ada dua kamar tidur yang sudah lengkap dengan ranjang dan kasurnya, ruang tamu yang bersambung dengan ruang keluarga sehingga menjadi kelihatan cukup besar, ruang makan dan dapur, serta air sumur yang harus kami angkat tiap pagi untuk mandi. Rumah yang kami tempati ini akhirnya sering menjadi basecamp anak-anak matematika, karena dari lima orang, 3 dari kami kuliah di Pendidikan Matematika. Teman-teman satu angkatan sering datang baik dalam rangka menyelesaikan tugas-tugas atau sekedar kumpul-kumpul di rumah ini. Dengan ruang tamu yang cukup besar, jika ramadhan tiba kami juga hampir tiap tahun mengadakan buka puasa bersama di sini.
Bersama teman-teman Mat'97 FKIP UNLAM dengan latar rumah kami
 Kami merasa nyaman tinggal bersama karena rata-rata berasal dari latar belakang keluarga yang tidak jauh berbeda. Agar lebih hemat, kami sepakat untuk memasak dan makan bersama-sama layaknya satu keluarga. Kami buat jadwal memasak, kebersihan dan cuci piring  yang ditempel di dinding rumah. Masalah pengeluaran juga kami atur bersama. Seperti kebiasaan anak-anak kost pada umumnya, mie instan, telur dan ikan asin (baca : iwak karing) adalah bahan pokok yang wajib ada. Sangat sering kami berlima makan pagi hanya nasi dengan seekor ikan asin ditambah satu bungkus mie instan sebagai kuah. Cukup buat berlima, begitu hemat bukan?? Hehee….Untuk siang kami kadang-kadang juga hanya beli satu mangkuk sayur dan seekor ikan untuk dimakan berlima. Yang penting kami bahagia, dan menurut kami inilah yang dinamakan tenggang rasa sebenarnya.
Beberapa kali aku masih tak percaya, kalau sekarang aku sudah menjadi mahasiswa di sebuah PT Negeri. Juni Tahun 1997 pertama kali aku mulai datang sebagai mahasiswa pendidikan matematika di sini. Saat itu ekonomi dunia, termasuk Indonesia mulai lesu-lesunya.  Krisis moneter melanda.  Ditambah lagi di Indonesia terjadi pergolakan di mana-mana, menuntut turunnya rezim orde baru. Akibatnya, aku yang sebelumnya sudah melengkapi berkas fc raport sebagai persyaratan memperoleh beasiswa, harus menerima kenyataan pahit. Di papan pengumuman kampus tertulis bahwa “beasiswa ditunda untuk waktu yang tidak bisa ditentukan”. Mahasiswa kampung ini pun lunglai tak berdaya. Mengukur-ngukur kemampuan sampai kapan bisa terus bertahan. Aku hanya bisa mengandalkan kiriman uang yang tak seberapa hasil kongsian nenek, kakak dan pamanku di kampung. Tak sampai setengahnya dari kiriman yang didapat teman-temanku per bulannya. Uang yang hanya pas-pasan buat bayar sewa rumah kost dan urunan buat uang kas yang tak bisa kami prediksi kapan habisnya. Jika uang kas menipis, artinya kami harus siap-siap untuk kumpulan lagi. Untung teman-temanku sering memaklumi jika aku terlambat bayar kas. Untungnya juga, teman-temanku satu rumah sering dikunjungi orangtuanya. Dan setiap mereka datang, sering membawa berbagai bahan makanan yang kadang-kadang cukup buat mengatasi kebutuhan kami beberapa hari. Aku terus bertahan dalam keyakinan bahwa sesudah kesulitan itu akan ada kemudahan (Inna ma’al ‘usri yusro; QS Al Insyirah,6). Dan, itu benar-benar terjadi. Saat aku masih menunggu beasiswa yang datangnya tak pasti, aku mencoba melengkapi persyaratan untuk beasiswa lain yang nominalnya jauh lebih besar. Tahun kedua kuliahku, ternyata aku bukan hanya memperoleh beasiswa itu, namun juga beasiswa yang ditunda itupun datang bersamaan. Alhamdulillah, sempat beberapa bulan menikmati dua beasiswa sekaligus, sampai akhirnya disuruh memilih salah satunya.
Oya, masa-masa kuliah di tempat jauh seperti ini, keberadaan teman-teman sebagai pengganti keluarga sangatlah berharga. Kita bisa saling dukung, saling support dan saling bekerjasama agar bisa sukses sama-sama. Ngomong-ngomong soal teman, aku mempunyai satu kawan yang sangat akrab. Mulai satu kelas saat kelas 3 SMA, kuliah di jurusan yang sama sampai  tinggal di rumah yang sama membuat kami semakin dekat. Kami tak terpisahkan, mulai aktifitas di ruang kuliah sampai di organisasi kemahasiswaaan kami ikuti sama-sama. Tekad kami, datang bareng dan luluspun harus bareng.

Saat acara perpisahan tahun 1997

Saat Orientasi Mahasiswa Baru

My Bestie Friend

 Agar tidak banyak biaya dan membuang waktu maka kami berdua bertekad bisa cepat-cepat lulus. Dari info2 kaka tingkat, untuk bisa lulus pada jurusan yang kami ambil selama ini paling cepat masih 9 semester. Namun kami berdua memasang target bisa selesai dalam 7 semester dan kami menyusun program yang akan kami jalani agar target kami tercapai. Rencana studi per semester sudah kami buat di awal pertama kuliah. Dan ini yang jadi rel kami menjalani masa-masa perkuliahan ke depan.
Untuk menunjang hal itu, kami berusaha mencari tahu tentang bagaimana sistem perkuliahan di jurusan yang kami ambil. Dari nama dosen paling killer sampai dosen paling murah nilai. Dari apa yang tidak disenangi dosen saat di ruang kuliahnya sampai apa saja faktor-faktor yang bisa mempercepat atau sebaliknya menghambat kelulusan. Demi keberhasilan studi kami juga, maka buku pegangan sebagai referensi tambahan sangat penting dalam perkuliahan. Sangat sulit kalau hanya mengandalkan apa yang diberikan dosen di ruang kuliah. Dari info-info kaka tingkat juga, kami sudah tahu buku apa saja yang dipakai sebagai referensi tiap mata kuliah. Kami berusaha memaksimalkan hasil dengan mengupayakan memiliki buku-buku yang jadi pegangan setiap mata kuliah yang kami ambil. Namun, keterbatasan biaya membuat kami tidak bisa membeli atau pun juga sekedar hanya memfotocopy. Selain itu, buku-buku referensi mata kuliah eksak seperti ini kebanyakan masih berupa literatur asing ataupun terjemahannya dan sangat langka ditemui di toko-toko buku di sini. Tidak seperti sekarang, dimana internet menyediakan bahan apa saja yang kita butuhkan, maka saat itu hanya perpustakaan yang menjadi sarana vital untuk menunjang perkuliahan.
Nah, bagaimana kami bisa memiliki buku tanpa harus membeli atau memfotocopy. Aku dan  my bestie friend punya strategi khusus sehingga kami bisa punya buku sampai lulus tanpa harus keluar uang. Perpustakaan MIPA jaman kami kuliah dulu hanya sedikit menyediakan buku paket yang boleh dipinjamkan ke mahasiswa. Dalam satu mata kuliah paling banyak hanya ada 2 buku yang  tersedia. Peraturan perpustakaan, peminjaman baru boleh dilakukan saat masuk masa perkuliahan. Kalau tidak salah ingat, buku hanya boleh dipinjam selama 1 minggu dengan masa perpanjangan 1 kali. Demi memiliki buku pegangan kuliah, setelah masa pengisian KRS (Kartu Rencana Studi) kami biasanya sudah mengamankan lebih dulu buku-buku yang kami incar untuk dipinjam saat masanya tiba. Caranya, dengan menyelipkan buku tersebut di tempat yang bukan seharusnya, misalnya kami selipkan buku tersebut di tumpukan lemari referensi, tumpukan buku-buku sosial, dsb. Kami tahu bahwa petugas perpustakaan sangat jarang merapikan buku-buku di sana, hee piiss Bu, Pa.. Ketika masa peminjaman sudah dibuka, langsung saja kami menuju rak tempat kami menyimpan buku itu dan meminjamnya. Setelah masa perpanjangan berakhir, agar buku yang sama tetap di tangan kami selama kami perlu, maka kami siasati lagi dengan saling bertukar kartu perpustakaan. Hal ini terjadi sampai kami selesai ujian. Hee..mungkin ini yang dinamakan strategi sukses punya referensi tanpa harus memiliki. Mengatasi minat baca yang tinggi namun daya beli rendah. Maafkan kami yang dulu Pak, Bu, wkwkw..
Alhamdulilah, walaupun sejak masa sekolah sampai kuliah, nilai-nilai akademisku tak pernah berhasil melampauinya. Namun, persahabatan kami membawa manfaat yang besar untukku. Aku banyak belajar darinya. Kami juga selalu memanfaatkan waktu untuk belajar bersama. Selalu saling mengingatkan dan berjalan bergandengan tangan agar tujuan kami bisa lulus 7 semester tercapai. Walaupun kami punya target selesai cepat, namun kami juga tetap sempatkan mengasah kemampuan bersosialisasi dengan menjadi pengurus inti organisasi kemahasiswaan kampus saat itu. Seabreg kegiatan dan rapat-rapat organisasi kami ikuti sampai sore bahkan malam hari. Namun, urusan kuliah tetap prioritas bagi kami. Konsistensi dan loyalitas pada sebuah tujuan membawa kami berdua berhasil mencapai target yang diinginkan. Rekor pertama di jurusan itu yang wisuda dalam waktu 7 semester. Membahagiakan lagi, dengan berbagai usaha dicampur sedikit diplomasi kami juga bisa lulus dengan nilai cumlaude. Meskipun cumlaudenya aku jauh lebih kurus dibanding cumlaudenya dia, hee.
Saat wisuda bersama kawan-kawan satu angkatan


Diapit kawan satu angkatan saat wisuda
Oya, selain peran sahabat, ada juga peran kedekatan dengan kakak tingkat yang sangat menunjang keberhasilan kuliahku. Kenal mulai acara orientasi mahasiswa baru (saat itu namanya OSPEK) dan sampai sekarang Alhamdulillah masih bersamanya. Ah, kalau kubahas panjang lebar sekarang tentang lika liku kisah itu, aku takut novel DILANKU yang digandrungi anak-anak remaja saat ini akan kalah dan tersaingi. Gubraakk..!!

(Banjarmasin, 10 Mei 2017)


Kamis, 13 April 2017

Antara Kamu dan Kami




Dear Kamu.

Kamu yang 3 tahun lalu datang dengan malu-malu. Kamu tamu istimewaku. Ketika itu datang masih dengan muka lugu. Ada yang cerdas tapi peragu. Ada yang pemalas tapi sering tahu lebih dulu. Ada yang cantik namun suka cuek. Ada yang tampan tapi tak percaya diri. Ada yang pendiam tapi penyayang. Ada yang banyak bicara tapi perhatian. Ada yang bongsor tapi periang. Ada yang urakan tapi bertanggungjawab. Ada yang sembrono tapi santun. Ada yang mudah marah tapi rajin ibadah. Ada yang sok pede tapi baperan. 

Kami. Kami hanyalah kumpulan pena yang bertugas menuliskan beraneka ilmu buat bekal kamu nanti. Kami hanyalah kumpulan cat warna yang berusaha melukis dengan indah sketsa bayangan kamu pada kanvas. Kami hanya sebuah jembatan untuk bisa kamu lewati saat perlu berjalan menuju ruang masa depan. Kami hanya orang biasa yang berusaha menjadikan kamu luar biasa. Kami bukan orang hebat namun berupaya menjadikan kamu manusia hebat. Kami tidak istimewa tapi selalu melayani kamu sebagai tamu istimewa.

Di sini kamu dan kami bertemu. Di sebuah bangunan tua bercat hijau yang dihiasi taman yang juga menghijau. Kamu dan kami terikat suatu hubungan saling asah dan saling asuh. Dalam posisi saling memberi dan menerima. Kamu mencari tahu, kami memberi tahu. Kamu belajar, kami mengajar. Kamu berusaha bisa, kami memberi cara. 

Banyak hal telah terjadi selama kamu dan kami dalam satu waktu itu. Tiga tahun kamu habiskan bersama kami. Sudah cukup rasanya. Sudah banyak bekal yang kami beri untuk perjalanan kamu besok hari. Sekarang saatnya kamu pergi, kami akan masih di sini. Kami hanya bisa menghantarkan sampai gerbang ini. Setelah ini, berjalanlah menuju masa depan kamu masing-masing. Melangkahlah, jangan menyerah, meski jalannya terjal berliku. Bila ada yang menghalangi jalanmu, singkirkanlah. Jika penghalang itu besar maka runtuhkanlah. Jika penghalang itu tinggi maka meloncatlah lebih tinggi. Jika kamu terjatuh, maka bangunlah kemudian melangkahlah lagi. Jika begitu banyak ujian diperjalanan maka bersabarlah. Maafkan kami yang hanya bisa mengiringi dengan tatapan, lambaian tangan dan banyak do’a pengharapan.

Antara kamu dan kami kini tersisa kenangan. Kamu yang datang dengan lugu dan pergi membawa segudang ilmu. Kami titip masa depan kami pada kamu, karena kamu adalah pemiliknya.
Ya KAMU... anak-anak kelas XII MAN 2 Model Banjarmasin. Teriring do’a, semoga ilmu yang kamu dapat bisa membawa keberkahan dan bermanfaat di dunia dan akhirat. Nak, sekolah boleh selesai, tapi untuk belajar tak ada kata usai.

Dari KAMI, 
Guru-guru kamu,
(Banjarmasin, lastday UNBK 2017)

Sabtu, 08 April 2017

SIAP UNBK MATEMATIKA 2017

Bagi anak-anak yang sebentar lagi akan mengikuti UNBK, alangkah baiknya mempersiapkan dengan belajar maksimal dan uji coba soal-soal UNBK sesuai kisi-kisi UN. Bagi anak-anak jurusan MIPA/MIA SMA/MA silakan coba uji kemampuannya dengan soal UNBK berikut ini.
SIAP UNBK MATEMATIKA 2017.

Minggu, 12 Maret 2017

Mendidik dari Hati ke Hati



Tugas seorang guru untuk memanusiakan manusia menjadikan profesi ini (kata orang) sebuah pekerjaan mulia. Berhadapan dengan makhluk bernyawa dengan berbagai karakter membuat hari-hari yang dijalani adalah hari yang selalu penuh dinamika. Ada banyak muncul kejadian tak terduga dalam suasana berbeda untuk setiap hari yang berbeda. Sebagai sebuah profesi, guru dituntut bisa mengelola kelas bagaimanapun kondisinya. Namun, sebagai manusia biasa, guru juga makhluk tak sempurna. Sering, ditengah kondisi tidak prima kita tetap dituntut berpenampilan sempurna. Dalam suasana hati yang tak biasa kadang kita malah diuji kesabarannya. Apalagi sebagai guru matematika, sebuah pelajaran yang jadi momok siswa dan  dianggap sulit. Seringkali harus berhadapan dengan siswa yang cuek, abai, wajah kaku dan tak mau tahu. Berbagai penolakan halus siswa terhadap jam matematika merupakan kejadian yang sudah biasa. Sebagai contoh bila jam matematika setelah jam olahraga, mereka berusaha mengulur waktu berganti pakaian dengan berlama-lama. Juga ketika jam matematika sebelum jam ulangan mata pelajaran lainnya, maka mata dan fikiran anak-anak yang hanya fokus pada pelajaran yang akan di ulangankan seolah meminta pemakluman dan menguji kesabaran. Melihat murid-murid dengan sikap seperti itu, terkadang emosi merasuk ke jiwa. Namun untuk meredamnya, sebuah qoute dari ulama besar KH Maemun Zubaer coba dijadikan pegangan bahwa ketika berhadapan dengan situasi seperti itu hadirkanlah gambaran bahwa satu diantara mereka kelak akan  menarik tangan kita menuju surga.

Sebaliknya, juga banyak cerita menyenangkannya ketika berhadapan dengan anak anak muda setingkat SMA/MA ini. Sering hati ikut terbawa suasana dengan tingkah polah mereka. Aku bisa ikut tertawa ngakak dengan tingkah konyol mereka, bisa ikut melankolis romantis saat mereka curhat cerita cinta, bisa ikut bangga atas prestasi yang mereka gapai bahkan bisa jatuh cinta berkali-kali kepada sikap santun yang mereka tunjukkan. 


Pada tulisanku ini aku akan bercerita tentang beberapa biiimplikasi dari perasaan yang muncul saat berhadapan dengan anak-anak didikku. Pertama-tama adalah tentang suatu peristiwa pada suatu masa saat aku masih menjadi guru ditempat tugas pertamaku. Saat itu ujian nasional masih merupakan penentu kelulusan siswa. Hari itu hari perpisahan sekaligus pengumuman kelulusan ujian nasional. Anak didikku kelas 3 yang jumlah totalnya saja tak lebih dari 30 orang, ternyata beberapa tidak lulus ujian. Bahkan termasuk seorang siswa dengan katagori terpandai di kelas tersebut. Hal ini turut memukul perasaanku sebagai salah satu guru mapel UN, walaupun tidak lulusnya mereka bukan di mapel yang aku ampu.  Aku turut merasakan bagaimana di posisi mereka. Madrasah kami adalah sekolah pinggiran, bukan hanya pinggir kota, tapi juga pinggir sawah dan pinggir sungai. Sering sekolah kami terpaksa harus pulang cepat karena jika tidak, bisa kalah cepat dengan air pasang yang masuk sampai ke dalam kelas. Sekolah ini juga masih belum punya lapangan olahraga kecuali beberapa persegi tumpukan limbah hasil pengolahan kayu yang banyak terdapat di sana. Sebuah sekolah yang anak-anak didiknya tak sanggup beli buku pegangan. Sekolah yang katanya memiliki sebuah perpustakaan namun sebenarnya hanya 2 lemari buku dengan koleksi lama. Sekolah yang ruang labnya hanya berisi 3 lemari alat yang diberi label sebagai lemari fisika, lemari kimia, dan lemari biologi. Sekolah yang lab komputernya hanya memiliki 4 komputer pentium 2 yang menempati sepetak ruang pengap 2 kali 4. Sekolah yang hanya berdinding kayu, beratap seng, dengan jendela yang kecil-kecil tanpa kipas angin. Sekolah yang anak-anak didiknya lebih perlu ijazahnya buat bekerja dibanding kuliah. Namun, anak-anak dengan serba keterbatasan sarana prasarana tersebut akhirnya menjadi korban sebuah sistem pendidikan yang tidak berpihak pada mereka. Aku merasa gagal berjuang bersama mereka. Tak seorangpun mengetahui kalau saat itu aku benar-benar tak bisa membendung airmataku. Aku menjauh untuk menyembunyikan tangisku. 


  - sedikit gambaran suasana tempatku ngajar dulu, diambil ketika selesai acara K3MA tahun 2009-

Peristiwa itu juga yang jadi satu alasan aku mantap memilih pergi mengikuti tugas belajar di Yogyakarta dan melupakan sejenak tentang dunia sekolah dan segala dinamikanya. Walaupun ternyata menginjak tahun kedua tugas belajar, aku sering sangat meridukan masa-masa mengajar seperti dulu lagi, sering rindu bercengkrama lagi dengan mereka, anak-anak didikku yang kusayangi.

Peristiwa selanjutnya yang akan kuceritakan adalah tentang kejadian 2 tahun yang lalu. Setelah aku melepas jabatan Kepala Labkom, ini adalah kelas pertama dalam bimbinganku. Walaupun yang kupegang adalah kelas MIA yang notabene tidak terlalu banyak masalah dibanding jurusan lain. Namun entah mengapa masa jelang pembagian raport kali itu begitu menguras energiku. Selain karena kami harus beradaptasi dengan sistem penilaian kurikulum 2013 yang baru pertama kali. Perbedaan pemahaman menyebabkan aku harus bersitegang dengan salah seorang guru. Dia berkeras kalau salah satu anak waliku tidak boleh naik kelas. Tentu saja sebagai wali yang menyayangi mereka tanpa kecuali, aku berusaha memperjuangkannya.  Negosiasi yang panjang dan melelahkan itu benar-benar menguras emosiku. Namun, sebenarnya tidak hanya itu pemicu campur aduknya perasaanku. Peristiwa lain sebelumnya juga sudah mangaduk-aduk hatiku sebagai guru. Saat itu masih masa ulangan kenaikan kelas. Seorang anak waliku tidak ikut ulangan. Panitia menerima surat keterangan sakit dari dokter atas namanya. Aku coba tanya beberapa temannya tentang sakitnya, namun tampak ada yang ingin mereka sembunyikan. Naluri seorang guru tentu saja bisa membaca ada ketidakberesan. Akhirnya, aku bisa tahu kalau anak itu tidak ikut ulangan sebenarnya karena sedang ikut seleksi masuk sekolah lain yang dianggapnya lebih baik. Dan surat sakit itu ditandatangani dokter yang memang kakaknya sendiri. Dia rela dan siap mengorbankan satu tahun yang sudah ditempuhnya untuk bisa sekolah di tempat itu. Aku kecewa, bukan hanya karena merasa akan kehilangan satu siswa, walaupun kami masih memiliki ribuan siswa lain yang masih bersekolah di sini. Aku kecewa, bukan hanya karena yang akan pergi ini adalah satu siswa yang akademisnya lumayan bagus, walaupun kami masih mempunyai banyak siswa lain yang lebih bagus dan tetap bertahan di sekolah ini. Aku lebih kecewa dengan caranya akan meninggalkan sekolah ini. Berharap sesuatu hal yang baik namun dengan cara yang menurutku tidak baik. Tak berapa lama, orangtuanya datang menemuiku untuk meminta pemakluman dengan berbagai alibi yang dia pertahankan. Mereka berharap selama proses seleksi dijalani, kami tetap melayani anaknya untuk bisa ikut ulangan susulan. Walau sekolah kami seolah dilecehkan karena menjadi cadangan bertahan hanya jika gagal dalam proses seleksi, aku tetap mencoba mencari sisi pemakluman. Tanpa mereka ketahui, aku sebenarnya bisa saja menggagalkan upayanya untuk bisa lulus di tempat yang dikehendakinya itu. Karena seorang temanku yang guru sekaligus panitia di sekolah yang dia tuju, beberapa kali meminta aku mengirimkan foto surat dokter yang ada ditanganku sebagai bukti mereka agar bisa tidak meluluskan. Namun aku memilih tidak mengirimnya. Aku memilih membiarkannya mewujudkan impiannya sekolah di sana dan diam-diam tetap mendo’akannya. Aku tetap layani dia sampai pembagian raport selesai. Aku tetap berharap mimpinya sekolah di sana benar-benar membawa kebaikan pada masa depannya. Aku mencoba mengambil hikmah dari peristiwa itu. Aku seolah tersadarkan bahwa walaupun sudah satu tahun bersama kami, namun ternyata belum memberikan keyakinan untuk mempercayakan masa depannya pada sekolah ini. Peristiwa ini membawaku lebih instrospeksi. Atas kegelisahan yang hanya kurasakan sendiri, aku mulai berjanji dalam hati agar bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anak yang sekolah di sini. Aku rela memberikan semampu aku bisa membantu anak-anak yang mempercayakan masa depannya di sekolah ini. Walaupun tanpa kerjasama semua pihak, perbaikan dan kemajuan sebuah sekolah tidak akan terlalu berarti. Namun setidaknya aku mau mereka tak pernah menyesali sudah sekolah di sini dan juga tak menyesal bertemu denganku sebagai guru matematikanya.
-  Personil lengkap kelas X MIA 1 Tahun 2015-

 -Suasana saat ulangan-

Kejadian berikutnya yang juga akan kuceritakan ini baru terjadi beberapa hari yang lalu. Ketika aku masuk kelas mereka di jam yang benar-benar tidak efektif. Kultum ba’da shalat juhur biasanya menyita banyak waktu, sehingga jam matematikaku yang cuma satu jp hanya sisa beberapa menit.  Namun karena tugas dan kewajiban, walaupun kondisi badan agak kurang fit, aku tetap memaksakan diri untuk masuk. Semangatku masuk bukan hanya karena kelas ini adalah kelas yang aku sebagai walinya,  namun juga aku merasa banyak yang masih harus aku sampaikan di ujung-ujung masa terakhir sekolah mereka. Ketika baru melangkah ke dalam kelas dan sekilas memandang, pengalamanku berkata bahwa mereka akan menghadapi ulangan setelah jamku. Dan ketika kutanya, mereka membenarkan.  Kebanyakan siswa terlihat fokus dengan buku pegangannya masing-masing, sedang sebagian yang lain juga masih terlihat makan-makan. Hanya beberapa yang tak mengabaikan kehadiranku. Aku maklum, mereka bersikap seperti itu pada pelajaranku karena memang mereka sudah sangat mengenalku. Aku coba memaklumi dan menunggu beberapa saat. Tak sabar, mulai kubuka pelajaran dengan mencoba memancing respon mereka. Aku masih berharap mereka bisa secepatnya fokus pada apa yang akan kuberikan. Namun mereka tetap tak bergeming. Sebenarnya ini hal biasa bagiku, dan aku sudah sangat sering menghadapi kelas dalam situasi seperti ini. Namun, entah mengapa hari itu perasaanku begitu sensitif. Melihat mereka seolah tak mengharapkan kehadiranku, secara spontan  aku memilih keluar kelas sebelum habis pelajaran. Hal yang sekalipun tak pernah aku lakukan sebelumnya. Setelah keluar kelas mereka, aku kemudian masuk ruang guru, aku termenung dan tak lama mataku mulai panas dan terasa basah. Aku menyadari kalau aku terlalu berlebihan dalam merespon sikap mereka. Memang aku merasa kecewa karena aku menganggap sudah sedemikian dekat dengan mereka, namun ternyata mereka masih belum memahami bahasaku. Aku tak bisa lugas untuk meminta mereka menyudahi pelajarannya dan fokus menghadapi topik yang akan kusampaikan. Namun, aku lebih kecewa pada diriku sendiri sebab ekspektasiku yang berlebihan pada mereka.  Kecewaku adalah karena semangatku yang tidak wajar dan terlalu besar untuk mereka, sehingga sikap biasa mereka kutanggapi luar biasa. Mungkin rasa dan pengharapan yang berlebihan ini muncul karena aku sangat menyayangi mereka. Tak berapa lama, pesan line dari mereka datang silih berganti sebagai tanda penyelasan akan sikap yang mereka tunjukan. Aku diamkan dan kucoba menata emosiku lagi. Walau sampai malam mulai membawa kelam aku masih tak bisa move on dari peristiwa tersebut. Aku berusaha menyudahinya. Kujawab pesan line mereka dan mencoba melupakan peristiwa itu. Beberapa hari kemudian, aku yang menganggap peristiwa itu sudah berlalu dikejutkan dengan kedatangan anak-anak itu ke rumahku. Rupanya mereka masih belum lega atas jawabanku lewat grup kelas itu. Aku terharu tahu mereka juga bisa merespon luar biasa dengan sikapku kala itu. Aku rangkul mereka semua. Ah…hampir saja airmataku runtuh lagi.  Thanks sayang, maafkan gurumu ini yang terlalu sayang pada kalian.
 - XII MIA 2 Tahun 2017-

Demikian beberapa ceritaku tentang profesi yang kujalani. Tentang nyatanya kekuatan ikatan rasa seorang guru pada anak didiknya. Bagiku, tugas seorang guru tak hanya transfer ilmu, tapi juga proses mendidik yang harus melibatkan hati nurani, cinta kasih, simpati dan empati. Ditengah gempuran teknologi seperti sekarang, ditengah melunturnya nilai-nilai sosial, di tengah mulai tergerusnya ikatan hubungan batin sesama manusia, aku masih percaya hubungan yang dijalin dengan landasan ketulusan dari hati akan sangat merasuk ke hati. Dan segala yang bermuara dari hati ke hati akan membuka segala jalan penerimaan pada apa yang akan kita tanamkan. Dengan begitu, proses penyelipan nilai-nilai moral dari seorang guru kepada murid dalam setiap proses pembelajaran akan lebih bermakna. Karena siraman ilmu tanpa dilandasi siraman batin hanya tumbuh menjadi tanaman kering yang kelak belum tentu menjadi buah. Walau aku juga tak tahu pasti apakah sedikit yang kubagi pada mereka akan banyak berarti, namun setidaknya aku boleh berharap bahwa hal itu bisa menjadi penolongku di akhirat nanti. Wallahu A’lam Bishawab.

Banjarmasin, Medio Maret 2017