Kamis, 13 April 2017

Antara Kamu dan Kami




Dear Kamu.

Kamu yang 3 tahun lalu datang dengan malu-malu. Kamu tamu istimewaku. Ketika itu datang masih dengan muka lugu. Ada yang cerdas tapi peragu. Ada yang pemalas tapi sering tahu lebih dulu. Ada yang cantik namun suka cuek. Ada yang tampan tapi tak percaya diri. Ada yang pendiam tapi penyayang. Ada yang banyak bicara tapi perhatian. Ada yang bongsor tapi periang. Ada yang urakan tapi bertanggungjawab. Ada yang sembrono tapi santun. Ada yang mudah marah tapi rajin ibadah. Ada yang sok pede tapi baperan. 

Kami. Kami hanyalah kumpulan pena yang bertugas menuliskan beraneka ilmu buat bekal kamu nanti. Kami hanyalah kumpulan cat warna yang berusaha melukis dengan indah sketsa bayangan kamu pada kanvas. Kami hanya sebuah jembatan untuk bisa kamu lewati saat perlu berjalan menuju ruang masa depan. Kami hanya orang biasa yang berusaha menjadikan kamu luar biasa. Kami bukan orang hebat namun berupaya menjadikan kamu manusia hebat. Kami tidak istimewa tapi selalu melayani kamu sebagai tamu istimewa.

Di sini kamu dan kami bertemu. Di sebuah bangunan tua bercat hijau yang dihiasi taman yang juga menghijau. Kamu dan kami terikat suatu hubungan saling asah dan saling asuh. Dalam posisi saling memberi dan menerima. Kamu mencari tahu, kami memberi tahu. Kamu belajar, kami mengajar. Kamu berusaha bisa, kami memberi cara. 

Banyak hal telah terjadi selama kamu dan kami dalam satu waktu itu. Tiga tahun kamu habiskan bersama kami. Sudah cukup rasanya. Sudah banyak bekal yang kami beri untuk perjalanan kamu besok hari. Sekarang saatnya kamu pergi, kami akan masih di sini. Kami hanya bisa menghantarkan sampai gerbang ini. Setelah ini, berjalanlah menuju masa depan kamu masing-masing. Melangkahlah, jangan menyerah, meski jalannya terjal berliku. Bila ada yang menghalangi jalanmu, singkirkanlah. Jika penghalang itu besar maka runtuhkanlah. Jika penghalang itu tinggi maka meloncatlah lebih tinggi. Jika kamu terjatuh, maka bangunlah kemudian melangkahlah lagi. Jika begitu banyak ujian diperjalanan maka bersabarlah. Maafkan kami yang hanya bisa mengiringi dengan tatapan, lambaian tangan dan banyak do’a pengharapan.

Antara kamu dan kami kini tersisa kenangan. Kamu yang datang dengan lugu dan pergi membawa segudang ilmu. Kami titip masa depan kami pada kamu, karena kamu adalah pemiliknya.
Ya KAMU... anak-anak kelas XII MAN 2 Model Banjarmasin. Teriring do’a, semoga ilmu yang kamu dapat bisa membawa keberkahan dan bermanfaat di dunia dan akhirat. Nak, sekolah boleh selesai, tapi untuk belajar tak ada kata usai.

Dari KAMI, 
Guru-guru kamu,
(Banjarmasin, lastday UNBK 2017)

Sabtu, 08 April 2017

SIAP UNBK MATEMATIKA 2017

Bagi anak-anak yang sebentar lagi akan mengikuti UNBK, alangkah baiknya mempersiapkan dengan belajar maksimal dan uji coba soal-soal UNBK sesuai kisi-kisi UN. Bagi anak-anak jurusan MIPA/MIA SMA/MA silakan coba uji kemampuannya dengan soal UNBK berikut ini.
SIAP UNBK MATEMATIKA 2017.

Minggu, 12 Maret 2017

Mendidik dari Hati ke Hati



Tugas seorang guru untuk memanusiakan manusia menjadikan profesi ini (kata orang) sebuah pekerjaan mulia. Berhadapan dengan makhluk bernyawa dengan berbagai karakter membuat hari-hari yang dijalani adalah hari yang selalu penuh dinamika. Ada banyak muncul kejadian tak terduga dalam suasana berbeda untuk setiap hari yang berbeda. Sebagai sebuah profesi, guru dituntut bisa mengelola kelas bagaimanapun kondisinya. Namun, sebagai manusia biasa, guru juga makhluk tak sempurna. Sering, ditengah kondisi tidak prima kita tetap dituntut berpenampilan sempurna. Dalam suasana hati yang tak biasa kadang kita malah diuji kesabarannya. Apalagi sebagai guru matematika, sebuah pelajaran yang jadi momok siswa dan  dianggap sulit. Seringkali harus berhadapan dengan siswa yang cuek, abai, wajah kaku dan tak mau tahu. Berbagai penolakan halus siswa terhadap jam matematika merupakan kejadian yang sudah biasa. Sebagai contoh bila jam matematika setelah jam olahraga, mereka berusaha mengulur waktu berganti pakaian dengan berlama-lama. Juga ketika jam matematika sebelum jam ulangan mata pelajaran lainnya, maka mata dan fikiran anak-anak yang hanya fokus pada pelajaran yang akan di ulangankan seolah meminta pemakluman dan menguji kesabaran. Melihat murid-murid dengan sikap seperti itu, terkadang emosi merasuk ke jiwa. Namun untuk meredamnya, sebuah qoute dari ulama besar KH Maemun Zubaer coba dijadikan pegangan bahwa ketika berhadapan dengan situasi seperti itu hadirkanlah gambaran bahwa satu diantara mereka kelak akan  menarik tangan kita menuju surga.

Sebaliknya, juga banyak cerita menyenangkannya ketika berhadapan dengan anak anak muda setingkat SMA/MA ini. Sering hati ikut terbawa suasana dengan tingkah polah mereka. Aku bisa ikut tertawa ngakak dengan tingkah konyol mereka, bisa ikut melankolis romantis saat mereka curhat cerita cinta, bisa ikut bangga atas prestasi yang mereka gapai bahkan bisa jatuh cinta berkali-kali kepada sikap santun yang mereka tunjukkan. 


Pada tulisanku ini aku akan bercerita tentang beberapa biiimplikasi dari perasaan yang muncul saat berhadapan dengan anak-anak didikku. Pertama-tama adalah tentang suatu peristiwa pada suatu masa saat aku masih menjadi guru ditempat tugas pertamaku. Saat itu ujian nasional masih merupakan penentu kelulusan siswa. Hari itu hari perpisahan sekaligus pengumuman kelulusan ujian nasional. Anak didikku kelas 3 yang jumlah totalnya saja tak lebih dari 30 orang, ternyata beberapa tidak lulus ujian. Bahkan termasuk seorang siswa dengan katagori terpandai di kelas tersebut. Hal ini turut memukul perasaanku sebagai salah satu guru mapel UN, walaupun tidak lulusnya mereka bukan di mapel yang aku ampu.  Aku turut merasakan bagaimana di posisi mereka. Madrasah kami adalah sekolah pinggiran, bukan hanya pinggir kota, tapi juga pinggir sawah dan pinggir sungai. Sering sekolah kami terpaksa harus pulang cepat karena jika tidak, bisa kalah cepat dengan air pasang yang masuk sampai ke dalam kelas. Sekolah ini juga masih belum punya lapangan olahraga kecuali beberapa persegi tumpukan limbah hasil pengolahan kayu yang banyak terdapat di sana. Sebuah sekolah yang anak-anak didiknya tak sanggup beli buku pegangan. Sekolah yang katanya memiliki sebuah perpustakaan namun sebenarnya hanya 2 lemari buku dengan koleksi lama. Sekolah yang ruang labnya hanya berisi 3 lemari alat yang diberi label sebagai lemari fisika, lemari kimia, dan lemari biologi. Sekolah yang lab komputernya hanya memiliki 4 komputer pentium 2 yang menempati sepetak ruang pengap 2 kali 4. Sekolah yang hanya berdinding kayu, beratap seng, dengan jendela yang kecil-kecil tanpa kipas angin. Sekolah yang anak-anak didiknya lebih perlu ijazahnya buat bekerja dibanding kuliah. Namun, anak-anak dengan serba keterbatasan sarana prasarana tersebut akhirnya menjadi korban sebuah sistem pendidikan yang tidak berpihak pada mereka. Aku merasa gagal berjuang bersama mereka. Tak seorangpun mengetahui kalau saat itu aku benar-benar tak bisa membendung airmataku. Aku menjauh untuk menyembunyikan tangisku. 


  - sedikit gambaran suasana tempatku ngajar dulu, diambil ketika selesai acara K3MA tahun 2009-

Peristiwa itu juga yang jadi satu alasan aku mantap memilih pergi mengikuti tugas belajar di Yogyakarta dan melupakan sejenak tentang dunia sekolah dan segala dinamikanya. Walaupun ternyata menginjak tahun kedua tugas belajar, aku sering sangat meridukan masa-masa mengajar seperti dulu lagi, sering rindu bercengkrama lagi dengan mereka, anak-anak didikku yang kusayangi.

Peristiwa selanjutnya yang akan kuceritakan adalah tentang kejadian 2 tahun yang lalu. Setelah aku melepas jabatan Kepala Labkom, ini adalah kelas pertama dalam bimbinganku. Walaupun yang kupegang adalah kelas MIA yang notabene tidak terlalu banyak masalah dibanding jurusan lain. Namun entah mengapa masa jelang pembagian raport kali itu begitu menguras energiku. Selain karena kami harus beradaptasi dengan sistem penilaian kurikulum 2013 yang baru pertama kali. Perbedaan pemahaman menyebabkan aku harus bersitegang dengan salah seorang guru. Dia berkeras kalau salah satu anak waliku tidak boleh naik kelas. Tentu saja sebagai wali yang menyayangi mereka tanpa kecuali, aku berusaha memperjuangkannya.  Negosiasi yang panjang dan melelahkan itu benar-benar menguras emosiku. Namun, sebenarnya tidak hanya itu pemicu campur aduknya perasaanku. Peristiwa lain sebelumnya juga sudah mangaduk-aduk hatiku sebagai guru. Saat itu masih masa ulangan kenaikan kelas. Seorang anak waliku tidak ikut ulangan. Panitia menerima surat keterangan sakit dari dokter atas namanya. Aku coba tanya beberapa temannya tentang sakitnya, namun tampak ada yang ingin mereka sembunyikan. Naluri seorang guru tentu saja bisa membaca ada ketidakberesan. Akhirnya, aku bisa tahu kalau anak itu tidak ikut ulangan sebenarnya karena sedang ikut seleksi masuk sekolah lain yang dianggapnya lebih baik. Dan surat sakit itu ditandatangani dokter yang memang kakaknya sendiri. Dia rela dan siap mengorbankan satu tahun yang sudah ditempuhnya untuk bisa sekolah di tempat itu. Aku kecewa, bukan hanya karena merasa akan kehilangan satu siswa, walaupun kami masih memiliki ribuan siswa lain yang masih bersekolah di sini. Aku kecewa, bukan hanya karena yang akan pergi ini adalah satu siswa yang akademisnya lumayan bagus, walaupun kami masih mempunyai banyak siswa lain yang lebih bagus dan tetap bertahan di sekolah ini. Aku lebih kecewa dengan caranya akan meninggalkan sekolah ini. Berharap sesuatu hal yang baik namun dengan cara yang menurutku tidak baik. Tak berapa lama, orangtuanya datang menemuiku untuk meminta pemakluman dengan berbagai alibi yang dia pertahankan. Mereka berharap selama proses seleksi dijalani, kami tetap melayani anaknya untuk bisa ikut ulangan susulan. Walau sekolah kami seolah dilecehkan karena menjadi cadangan bertahan hanya jika gagal dalam proses seleksi, aku tetap mencoba mencari sisi pemakluman. Tanpa mereka ketahui, aku sebenarnya bisa saja menggagalkan upayanya untuk bisa lulus di tempat yang dikehendakinya itu. Karena seorang temanku yang guru sekaligus panitia di sekolah yang dia tuju, beberapa kali meminta aku mengirimkan foto surat dokter yang ada ditanganku sebagai bukti mereka agar bisa tidak meluluskan. Namun aku memilih tidak mengirimnya. Aku memilih membiarkannya mewujudkan impiannya sekolah di sana dan diam-diam tetap mendo’akannya. Aku tetap layani dia sampai pembagian raport selesai. Aku tetap berharap mimpinya sekolah di sana benar-benar membawa kebaikan pada masa depannya. Aku mencoba mengambil hikmah dari peristiwa itu. Aku seolah tersadarkan bahwa walaupun sudah satu tahun bersama kami, namun ternyata belum memberikan keyakinan untuk mempercayakan masa depannya pada sekolah ini. Peristiwa ini membawaku lebih instrospeksi. Atas kegelisahan yang hanya kurasakan sendiri, aku mulai berjanji dalam hati agar bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anak yang sekolah di sini. Aku rela memberikan semampu aku bisa membantu anak-anak yang mempercayakan masa depannya di sekolah ini. Walaupun tanpa kerjasama semua pihak, perbaikan dan kemajuan sebuah sekolah tidak akan terlalu berarti. Namun setidaknya aku mau mereka tak pernah menyesali sudah sekolah di sini dan juga tak menyesal bertemu denganku sebagai guru matematikanya.
-  Personil lengkap kelas X MIA 1 Tahun 2015-

 -Suasana saat ulangan-

Kejadian berikutnya yang juga akan kuceritakan ini baru terjadi beberapa hari yang lalu. Ketika aku masuk kelas mereka di jam yang benar-benar tidak efektif. Kultum ba’da shalat juhur biasanya menyita banyak waktu, sehingga jam matematikaku yang cuma satu jp hanya sisa beberapa menit.  Namun karena tugas dan kewajiban, walaupun kondisi badan agak kurang fit, aku tetap memaksakan diri untuk masuk. Semangatku masuk bukan hanya karena kelas ini adalah kelas yang aku sebagai walinya,  namun juga aku merasa banyak yang masih harus aku sampaikan di ujung-ujung masa terakhir sekolah mereka. Ketika baru melangkah ke dalam kelas dan sekilas memandang, pengalamanku berkata bahwa mereka akan menghadapi ulangan setelah jamku. Dan ketika kutanya, mereka membenarkan.  Kebanyakan siswa terlihat fokus dengan buku pegangannya masing-masing, sedang sebagian yang lain juga masih terlihat makan-makan. Hanya beberapa yang tak mengabaikan kehadiranku. Aku maklum, mereka bersikap seperti itu pada pelajaranku karena memang mereka sudah sangat mengenalku. Aku coba memaklumi dan menunggu beberapa saat. Tak sabar, mulai kubuka pelajaran dengan mencoba memancing respon mereka. Aku masih berharap mereka bisa secepatnya fokus pada apa yang akan kuberikan. Namun mereka tetap tak bergeming. Sebenarnya ini hal biasa bagiku, dan aku sudah sangat sering menghadapi kelas dalam situasi seperti ini. Namun, entah mengapa hari itu perasaanku begitu sensitif. Melihat mereka seolah tak mengharapkan kehadiranku, secara spontan  aku memilih keluar kelas sebelum habis pelajaran. Hal yang sekalipun tak pernah aku lakukan sebelumnya. Setelah keluar kelas mereka, aku kemudian masuk ruang guru, aku termenung dan tak lama mataku mulai panas dan terasa basah. Aku menyadari kalau aku terlalu berlebihan dalam merespon sikap mereka. Memang aku merasa kecewa karena aku menganggap sudah sedemikian dekat dengan mereka, namun ternyata mereka masih belum memahami bahasaku. Aku tak bisa lugas untuk meminta mereka menyudahi pelajarannya dan fokus menghadapi topik yang akan kusampaikan. Namun, aku lebih kecewa pada diriku sendiri sebab ekspektasiku yang berlebihan pada mereka.  Kecewaku adalah karena semangatku yang tidak wajar dan terlalu besar untuk mereka, sehingga sikap biasa mereka kutanggapi luar biasa. Mungkin rasa dan pengharapan yang berlebihan ini muncul karena aku sangat menyayangi mereka. Tak berapa lama, pesan line dari mereka datang silih berganti sebagai tanda penyelasan akan sikap yang mereka tunjukan. Aku diamkan dan kucoba menata emosiku lagi. Walau sampai malam mulai membawa kelam aku masih tak bisa move on dari peristiwa tersebut. Aku berusaha menyudahinya. Kujawab pesan line mereka dan mencoba melupakan peristiwa itu. Beberapa hari kemudian, aku yang menganggap peristiwa itu sudah berlalu dikejutkan dengan kedatangan anak-anak itu ke rumahku. Rupanya mereka masih belum lega atas jawabanku lewat grup kelas itu. Aku terharu tahu mereka juga bisa merespon luar biasa dengan sikapku kala itu. Aku rangkul mereka semua. Ah…hampir saja airmataku runtuh lagi.  Thanks sayang, maafkan gurumu ini yang terlalu sayang pada kalian.
 - XII MIA 2 Tahun 2017-

Demikian beberapa ceritaku tentang profesi yang kujalani. Tentang nyatanya kekuatan ikatan rasa seorang guru pada anak didiknya. Bagiku, tugas seorang guru tak hanya transfer ilmu, tapi juga proses mendidik yang harus melibatkan hati nurani, cinta kasih, simpati dan empati. Ditengah gempuran teknologi seperti sekarang, ditengah melunturnya nilai-nilai sosial, di tengah mulai tergerusnya ikatan hubungan batin sesama manusia, aku masih percaya hubungan yang dijalin dengan landasan ketulusan dari hati akan sangat merasuk ke hati. Dan segala yang bermuara dari hati ke hati akan membuka segala jalan penerimaan pada apa yang akan kita tanamkan. Dengan begitu, proses penyelipan nilai-nilai moral dari seorang guru kepada murid dalam setiap proses pembelajaran akan lebih bermakna. Karena siraman ilmu tanpa dilandasi siraman batin hanya tumbuh menjadi tanaman kering yang kelak belum tentu menjadi buah. Walau aku juga tak tahu pasti apakah sedikit yang kubagi pada mereka akan banyak berarti, namun setidaknya aku boleh berharap bahwa hal itu bisa menjadi penolongku di akhirat nanti. Wallahu A’lam Bishawab.

Banjarmasin, Medio Maret 2017

Minggu, 12 Februari 2017

Bukan sebuah Kebetulan..!



Saat ini anak-anak didikku kelas 12 sudah berada di  bulan-bulan akhir sekolahnya. Saat di mana mereka disibukkan antara persiapan menghadapi ujian akhir dengan persiapan memilih jalan mana yang akan ditempuh untuk masa depannya. Berhadapan dengan mereka, merewind lagi ingatanku pada masa yang sama kala itu. Momen yang sama saat aku dalam proses usia dan tingkatan sekolah seperti mereka. Saat itu, aku juga memasuki semester akhir mendekati masa-masa kelulusan SMA. Sekolahku berada di Kota Kabupaten dengan jarak 200 km dari ibu kota Provinsi. Tentunya info tentang perkuliahan sangat minim aku dapatkan.  Belum ada informasi online yang bisa di akses, karena waktu itu jangankan internet, koran pun hanya bisa dibaca ketika ditemukan sebagai pembungkus saat membeli bawang atau kacang. Seingatku, guru-guru SMAku juga tak pernah seorangpun memberi pencerahan tentang seperti apa dan bagaimana perkuliahan itu sebenarnya. Sosialisasi dari kampus-kampus juga tak pernah sekalipun datang ke sekolahku. Sedikit informasi hanya kudapat dari cerita teman-teman di kelas yang punya kakak sudah kuliah atau keluarganya yang pernah kuliah.
Suatu waktu, aku dan teman-teman yang rangking 10 besar di kelas ditawari guru kami untuk mengisi form aplikasi PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan), sekarang namanya SNMPTN, yang merupakan salah satu jalan kuliah melalui jalur prestasi. Waktu yang diberikan untuk mengisi sangat singkat sehingga sesingkat itu pula aku harus memutuskan. Tak ada keluarga yang bisa kuajak diskusi, karena aku hanya tinggal bersama nenek yang aku yakin tak akan mengerti tentang isian seperti ini. Mengingat kondisiku, saat itu tak ada terbersit keyakinan untuk bisa kuliah seperti beberapa temanku yang sudah dengan mantapnya mempunyai tujuan tempat kuliah. Ada yang ingin ke Malang menyusul kakaknya yang sudah kuliah di sana. Ada yang siap berangkat ke Jogja bersama orangtuanya. Ada yang jauh hari merencanakan untuk bimbel dulu di Banjarmasin agar bisa lulus ujian tulis dan berkuliah di sana. Masa-masa akhir sekolah ini, topik tentang perkuliahan selalu menjadi topik seru dibicarakan setiap kali jam kosong, menunggu pergantian guru masuk kelas atau saat istirahat sambil menuju kantin sekolah.
Untuk tidak menjadi beban siapapun aku sudah merencanakan untuk bersiap mencari kerja setamat SMA, bahkan sampai bekerja seperti tetanggaku yang jadi TKI di luar negri pun akan kujalani.  Namun, entah mengapa aku terima saja ketika guruku menyodorkan lembaran-lembaran form isian aplikasi kuliah itu. Yang ada dalam fikiranku, apa salahnya aku ikut mengisi aplikasi itu, toh tidak bayar dan akupun menerima mengisinya dengan niat hanya mencoba peruntunganku saja. Aku coba membaca dan memahami apa yang tertera pada lembaran-lembaran aplikasi itu. Form itu hanya disertai daftar perguruan tinggi dan program studi yang ditawarkan. Tak banyak penjelasan lagi tentang prodi-prodi yang ditawarkan.  Dari daftar program studi yang ditawarkan oleh kampus yang terletak di Banjarmasin, aku lihat ada deretan nama program studi yang sepertinya serupa dengan judul mata pelajaran yang kami pelajari tiap hari di sekolah. Tanpa memperhatikan nama fakultasnya yaitu FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan), mataku hanya fokus pada nama prodi yang berurutan tertulis di sana, antara lain pendidikan kimia, pendidikan biologi, pendidikan matematika, pendidikan sejarah, pendidikan Ekonomi, dan lain-lain. Laksana menjawab pertanyaan manakah pelajaran yang paling disukai, maka dengan jalan itulah aku memutuskan yang mana pilihanku. Berdasarkan pemahamanku sendiri, ketika aku memilih pendidikan matematika, dan sebelum aku mengerti bahwa itu adalah tempat untuk dididik menjadi guru matematika, aku hanya mengira-ngira bahwa nanti kuliahnya pasti tak jauh dari materi matematika seperti yang dipelajari di kelasku. Kebetulan waktu itu belum ada pilihan prodi lain dengan nama serupa. Andaikan seperti sekarang ada  prodi matematika murni dari Fakultas MIPA mungkin aku akan bingung dan mencari tahu apa beda keduanya.
Isian aplikasi kuliah di atas cukup menyibukkan kami karena baru itu pertama kali kami kenal dengan form isian pensil 2B. Kemudian saat kuliah form seperti ini menjadi hal lumrah di isi tiap kali daftar ulang. Guru yang ditugasi mengurusi itu, Pak Rochmad, guru matematiku lulusan D3 UGM, harus memastikan beberapa kali bahwa form yang kami isi sudah benar-benar sesuai standar komputer pemindai. Setelah aplikasi selesai diisi dan dari obrolan dengan teman-temanku yang sama mengisi, baru aku tahu kalau aplikasi yang baru kupilih adalah tempat kuliah calon guru-guru matematika nantinya. Namun, aku tak terlalu ambil pusing, karena jikapun nanti berhasil diterima, aku tak memiliki modal dan keyakinan hal itu bisa kuambil. Diantara 2 kelas IPA di sekolahku, ternyata masih ada 3 temanku lagi yang mengambil pendidikan matematika sebagai pilihan pertamanya.
Tanpa peduli kapan diumumkan hasilnya, aku jalani sisa waktu dengan serius belajar dan rajin mengikuti bimbel sore. Hal yang rutin diadakan sekolah dalam rangka menghadapi ujian nasional yang saat itu dinamakan EBTANAS (Evaluasi Belajar tahap Akhir Nasional).  Aku tetap mengusahakan yang terbaik semampuku walaupun aku masih belum tahu bagaimana nanti masa depanku. Dalam masa itu, beberapa guru yang cukup akrab denganku ada yang bertanya tujuan kuliah yang ku isikan pada aplikasi kuliah waktu itu. Sampai saat itu jangankan kepada guru, kepada teman pun, tak pernah sanggup aku menceritakan bagaimana keadaanku sebenarnya. Kututup setiap pertanyaan dengan berusaha mengalihkan topik pembicaraan dan senyum riang yang selalu berusaha kutunjukkan. Yang ku ingat dari guru-guruku saat tahu aku menjadikan pendidikan keguruan sebagai pilihan, selalu ada nada menyesalkan yang muncul dari ekspresi mereka. Ada yang mengatakan harusnya jangan memilih jadi guru, karena nasibku nanti tak lebih dari mereka, juga mengingatkan kesejahteraan guru waktu itu yang hanya pas-pasan. Mungkin penilaian mereka, dari nilai raportku selama ini, aku bisa diterima kalau mau memilih fakultas yang lebih bergengsi seperti fakultas kedokteran, yang saat itu baru beberapa tahun dibuka. Alasan rasional kuungkapkan kepada mereka bahwa aku lebih senang hitungan daripada hapalan. Tak ada yang tahu alasanku sebenarnya bahwa sampai saat itu, memilih dan lulus dimanapun bagiku sama saja, aku tetap tak tahu jalan seperti apa yang akan mengantarku untuk bisa kuliah.
Ternyata tak sampai menunggu selesai ujian nasional, datang kabar yang seharusnya membuatku gembira. Dari 4 orang kami yang memilih pendidikan matematika, hanya aku dan teman akrabku satu kelas yang diterima di pendidikan matematika. Dari dua sisanya, satu orang gagal ikut jalur ini, dan satu lainnya diluluskan pada pilihan keduanya yaitu pendidikan biologi. Namun, nantinya temanku yang gagal ini berhasil masuk matematika melalui jalur tes, dan temanku yang pendidikan biologi ini di tahun kedua juga bisa berpindah ke matematika.
EBTANAS masih beberapa minggu lagi. Waktu pendaftaran ulang kuliah juga masih lama, karena dijadwalkan waktunya setelah pengumuman hasil EBTANAS. Di saat aku harusnya bangga karena sudah berstatus calon mahasiswa. Aku dilanda kebimbangan dan kebingungan yang hanya bisa kupendam sendiri. Tak ada seorangpun tahu perasaan dan keadaanku saat itu. Hati kecilku sebenarnya sangat ingin mengambil kesempatan itu, namun aku tak tahu caranya. Bahkan untuk tidak menambah bebannya, kepada nenek yang memeliharaku, tak juga berani kuceritakan keinginanku. Aku sadar, nenekku yang tak bekerja dan hanya mengandalkan gaji janda pensiunan tentara tak seberapa, pasti tak akan bisa membiayai hidup dan kuliahku di sana. Keluargaku yang lain? Aku juga sadar mereka punya tanggungan masing-masing dan aku tak mau jadi beban keluarga mereka.  Lagipula, aku tak pernah sekalipun sanggup bersuara untuk meminta walau sekedar receh keperluan sekolahku kecuali pada nenekku saja. Aku si anak kampung bergulat antara harapan dan kenyataan.  Dengan berusaha tegar, kucoba memupus harapan dan menutup jalan yang sudah terbentang di depan mata.  Kepada teman akrabku, aku ceritakan bahwa aku mengundurkan diri dan melepas kesempatan itu. 
Namun, ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Aku baru tahu, kalau niatku semula yang hanya main-main mencoba peruntungan dan kemudian mengabaikannya, tidak bisa dibenarkan. Aku dipanggil kepala sekolahku ke ruangannya. Rupanya niatku mengundurkan diri sampai ke telinganya. Katanya keputusanku akan merugikan adik-adik tingkat tahun berikutnya. Kata beliau, kouta sekolah kami akan dikurangi tahun depan jika ada kesempatan lulus tahun ini yang disia-siakan. Mendengar itu, aku tak sanggup lagi berkata-kata. Tak bisa lagi juga kuceritakan bagaimana perasaanku saat itu.
Saat setelah itulah aku menyadari bahwa garis hidup setiap orang sudah ada yang mengatur. Tak ada yang kebetulan dalam dunia ini. Semua hal yang kita jalani, dan orang-orang yang kita temui adalah titik-titik beraturan saling terhubung yang membentuk gambaran seperti apa nanti masa depan kita. Bukan kebetulan kalau aku disodori aplikasi kuliah itu. Bukan kebetulan pula kalau kemudian hatiku tergerak untuk mencoba peruntungannya saja. Bukan kebetulan juga, kalau aku berjalan ke ruang kepala sekolah bersama seorang temanku. Temanku yang menemaniku masuk menemui kepala sekolah itu rupanya tanpa sepengetahuanku (walaupun tak pernah kukonfirmasi, namun aku meyakininya) menceritakan kondisiku pada keluargaku. Sore harinya, pamanku (adik dari ibuku) bersama istrinya datang ke rumah untuk meyakinkanku bahwa mereka akan mengajak keluarga yang lain patungan membiayai kuliahku. Di tengah aku merasa sendiri, aku sadari ternyata aku dikelilingi banyak orang yang begitu peduli. Bahkan aku tak tahu entah mendengar darimana, seorang guruku besoknya memanggilku dan juga berniat menawarkan bantuannya. Aku hanya bisa terdiam, antara ragu dan haru.  Karena sudah tekadku untuk tak ingin membuat repot banyak orang, maka kuusahakan seminimal mungkin menerima bantuan. Aku tak ingin kehidupanku terus-terusan menjadi beban banyak orang. Aku mulai berhitung. Kutengok sisa uang tabungan hasil beasiswa selama ini. Kutawarkan kepada tetangga sepeda sekolahku yang dihargainya tak seberapa. Aku mulai mantap ketika aku mendapatkan cerita dari temanku yang kakaknya sudah kuliah di Banjarmasin bahwa ada beasiswa yang bisa didapatkan mulai awal masuk kuliah dengan seleksi berdasarkan nilai raport saja. Dan dengan berbekal keyakinan bahwa aku bisa mendapatkan beasiswa itu akhirnya dengan membulatkan niat, mengeraskan tekad dan menggali semangat kulengkapi berkas persyaratan daftar ulang.
                Waktu berputar dengan cepat. Meski bukan ruang kelas yang sama, menghadapi anak-anak kelas 12 di masa penghujung sekolah seperti sekarang selalu saja bisa membangkitkan ingatan akan pergulatan perasaanku saat itu. Tentu saja, sekali lagi bukan kebetulan, namun skenarioNya lah akhirnya yang menjadikan peristiwa demi peristiwa 20 tahun silam yang kuceritakan di atas bisa membawaku pada profesiku ini. Bercermin dari masa laluku itu, aku menyadari bahwa dari sekian banyak anak didikku, yang tidak semuanya aku tahu seberat apa beban hidup mereka dan tak semuanya aku tahu latar belakang keluarganya. Namun yang pasti aku yakini bahwa sekecil apapun motivasi, perhatian dan kepedulian maka bisa jadi itulah yang akan membangkitkan dan mengubah hidupnya. Aku yakini, skenario sang Maha lah yang menjadikan kebodohan sekaligus keberanianku saat mengisi aplikasi kuliah saat itu akhirnya membawaku bisa bertemu mereka. Sebagai seorang pendidik, aku menceritakan lagi kisah ini untuk menjadikannya bukan hanya pelajaran hidupku namun juga motivasi bagi anak-anak didikku.


Anak-anakku sayang kelas 12 MAN 2 Model Banjarmasin. Pesan ibu, jangan takut bermimpi Nak…! Siapapun kalian dan bagaimanapun kehidupan kalian, semua punya hak untuk masa depan lebih baik. Bermimpilah dan bangkitlah untuk mewujudkan mimpi-mimpi kalian…teruslah usahakan yang terbaik, karena kita tak pernah tahu apa yang ada di depan dan sudah disiapkan oleh Tuhan untuk kita..!! 
Banjarmasin, 12 Februari 2017

(Dari seorang murid yang bukan kebetulan kemudian menjadi seorang guru)